Wednesday, February 29, 2012

Masak, Suatu Makna Dibalik Ketidaksukaan

Sudah 4 minggu terakhir saya keranjingan praktek resep-resep tanah air, dari yang tingkatannya mudah sampai agak  sulit. Pernah dalam  tiga hari berturut-turut menunya seperti begini, hari pertama ketoprak, hari kedua bistik lidah ala Indoneisa, hari ketiga sate padang. Dan dalam 3 hari berturut –turut itu  saya mendapat pujian serta ucapan terima kasih dari suami. Wah senangnyaaa!!  Senang  karena praktek coba-coba resep tersebut berhasil, senang juga diberi  pujian dan ucapan terimakasih dari orang tercinta, juga  yang lebih penting lagi, senang melihat mereka ayah dan anak-anak  semuanya bisa makan dengan lahap! Meskipun khusus saat menu ketoprak, anak-anak bisa  makan lahap karena saya buatkan makanan yang berbeda tapi tetap memakai lontong dan tahu goreng.

Kebahagiaan ini bertambah ketika saya menyajikan menu seperti sop ceker, buntil, tumis asin peda atau pecel lele di hari-hari berikutnya, yang  pada saat makan lele gorengya semua  pakai tangan saja dengan lahap dan kilat, itu tentu saja nilai plus buat anak-anak  saya yang seringkali   cenderung lamban menyelesaikan makannya  di rumah. Juga „prestasi“ setelah hidup disini selama 3,5  tahunan digempur makanan  Eropa (vegetaris dan ikan) setiap hari di Hortnya  di Dresden dulu  dan di sekolahnya sekarang . Selera lidah  anak-anak  terhadap makanan perlahan-lahan memang mulai berubah. Mereka suka sup-sup  ala Jerman juga pasta, sementara  saya dan suami tetaap dengan selera nusantara. Jadi dirumah  biar gak repot masak berkali-kali, mereka harus mengikuti makan malam ala Indonesia hehee.. makan malam pasta bolehlah sesekali saja.

Ngomongin makanan Indonesia disini, berarti ngomongin kegiatan masak-memasak, dan betapa harus benar-benar diniati  memulainya. Sampai sekarangpun kalau ada kolom yang menanyakan hobi saya apa, pasti saya akan jawab cepat :  membaca, travelling dan nonton film. Jujur, sejak kecil dulu saya paling anti bila disuruh  ke dapur. Saya lebih suka bila disuruh beres-beres  dan mengepel rumah, katanya hasil beres-beres saya meskipun lambaan --karena suka gak sadar sambil diselang baca majalah lama yang baru ketemu-- tapi  selalu bersih dan memuaskan!  Ya jelaslah, lha wong saat mau ngepel itu kadang-kadang semua kursi-kursi ruang tamunya saya angkat dan dibalikkan segala!  Seperti  jaman piket di SD dulu. Dan kalau hasil mengepel saya belum kering kemudian ada yang menginjak lantainya, pasti saya akan langsung tegur, siapapun, termasuk orang tua hihihii…  Kesal, karena  sebel liat jejak-jejak kaki baru yang malah mengotori  si lantai!  Hmm.. hasil baju yang saya seterika  juga dikenal paling rapi di keluarga kami  :-))

Untungnya ibu saya yang kebetulan hobi dan jago masak juga sudah diakui kelezatan masakannya di keluarga besar serta  dalam lingkungan kerjanya bisa mengerti bahwa saya tidak berminat kearah situ. Jadi beliau tidak memaksa saya harus membantunya memasak di dapur. Dan beruntungnya lagi, karena kebetulan orang tua saya keduanya bekerja, dirumah keluarga kami selalu ada „helper“  baik yang tinggal bersama dirumah sampai bertahun-tahun atau yang pulang harian tapi juga bertahan hingga belasan tahun. So, terbebaslah saya dari kegiatan membantu ibu saya memasak di dapur hehee.. dengan alasan yang baik tentu saja, karena sudah ada sang helper!  Padahal aslinya  memang  malas, gak minat dan gak mau masak, wah anak gadis yang payah betul!! :p

Nahh, sejak kejadian keranjingan berulang-ulang praktek resep  tanah air disini bahkan yang dulu sama sekali tidak pernah terpikir berminat memasaknya, lalu saya jadi bertanya-tanya pada diri sendiri.. koq bisaa?? Ini sekarang  jadi apa namanya ya..?  Hobi?? Coba-coba??  Kebutuhan??  Kangen?? Penasaran ingin praktek?? Pembuktian diri?? Ingin menyenangkan keluarga?? Aah entahlaah.. yang jelas hasil praktek dan olahan dapur  itu kemudian jadi tersaji di meja makan, memuaskan dahaga  kuliner  tanah air  dan bisa dimakan bersama-sama, kadang oleh keluarga dirumah saja. Kadang oleh tamu-tamu keluarga kami  dan beberapa waktu lalu malah sering  juga dimakan oleh lebih dari 40an  orang  di acara kumpul-kumpul atau syukuran  dengan teman-teman  Indonesia  di Dresden. Jangan ditanya lagi  bila hidangan yang tersedia sungguh berkenan di lidah mereka, apalagi bila sampai ada yang menanyakan bagaimana resep dan cara membuatnya… rasanya bahagia deh, jerih payah saya dihargai! 

Pesan dari tulisan saya ini, bahwa sesuatu yang benar-benar tidak disukai lebih baik tidak  disikapi dengan antipati dahulu. Mungkin dari hal atau sesuatu yang tidak kita sukai sekarang,  itulah yang  kemudian menjadi celah atau jalan bagi kita untuk  bisa membahagiakan orang lain. Saya ingat pernah ada salah satu tulisan  pak Mario Teguh yang  kira-kira intinya seperti ini “Sebagian orang masih tidak sukses karena belum mencoba hal yang tidak disukainya, tapi mungkin dari situlah kesuksesannya berawal“  Hal yang terjadi pada diri saya sendiri mungkin bukan pada taraf sukses, tapi masih pada taraf „ternyata aku mampu“  Ah, tapi itu saja sudah membuat saya bahagia, apalagi kalau saya bisa menyenangkan orang lain.

Wednesday, February 15, 2012

Mie Ayam Pangsit




Udah lamaa pengen bikin mie ayam, tapi gak pe-de dan tidak pernah mencoba sebelumnya. Akhirnya nemu resep ini, yang cukup simpel tapi hasilnya lumayan uenakk hehee.. Kesampean juga deh bikin mie ayam ala mamang2, dengan bumbu memakai minyak ayam plus bawang putih. Disaat winter  memang pas makan yang hangat-hangat begini..  :-).
Ini dia resepnya  (dicopy dr Bank Resep keluarga Jatmiko )

MIE AYAM
Sumber: Rudy Choirudin

Bahan:
1/2 kg mie ayam
100 ml minyak ayam (aku bikin gak sampe 100ml jd dicampur minyak goreng biasa, yg penting ayam dan bawang putihnya terasa :-))
100 ml kecap asin
300 gr daging ayam rebus potong kotak (aku dicampur jamur champignon cincang)
3 sdm kecap manis
2 sdm kecap inggris
2 btg daun bawang, rajang
caisin dan bawang goreng

Bumbu halus:
3 bh bawang putih
5 bh bawang merah
1 sdt ketumbar
3 cm kunyit
3 cm jahe
4 btr kemiri

Bahan kaldu:
2 ltr air
1/kg tulang ayam (aku pake 4 Hänchenschenkel, paha ayam atas-bawah, tanpa kulit)
1 sdt garam
1/2 sdt lada bubuk
(kalo aku ditambah lagi bawang putih geprek sesuai selera)

cara Membuat:
1. Kaldu: air direbus hingga mendidih, masukkan tulang ayam, rebus dengan api kecil hingga kaldu beraroma harumtambahkan lada bubuk dan garam
2. Tumis bumbu yang dihaluskan hingga harum dan matang
3. Masukkan ayam, tumis hingga bumbu menyerap ke dalam ayam. Tumis sebentar, angkat, sisihkan.
4. Masukkan 2 sdm minyak ayam ke dalam mangkok, tambah penyedap (aku gak pake, krn penyedap udah dimasukkan ke tumisan ayam)
5. Rebus mie dan caisin yang telah dirajang hingga matang, angkat, letakkan di dalam mangkok yang telah terisi bumbu, masukkan ayam 2 sdm
6. Tambahkan bawang goreng dan daun bawang rajang

Cara membuat minyak ayam:
1. ambil kulit ayam dan lemaknya
2. panaskan dengan api kecil di atas penggorengan
3. tambahkan 2 siung bawang putih digeprek
4. panaskan hingga seluruh minyak keluar dari kulit dan lemak ayam
5. minyak siap digunakan

Friday, February 10, 2012

Parade Kerudung

Mungkin judulnya terdengar sedikit bombastis, tapi saat menuliskan ini saya masih terpingkal-pingkal membayangkan bagaimana Herr Menin teman laki-laki kami di kelas kursus, seorang keturunan yahudi asal Ukraina yang akrab kami sapa dengan panggilan Jurii, berkerudung warna pink, bermotif bunga pula!! Sayang sekali, sebelum saya sempat memotretnya dia sudah melepaskan kerudung siap pakai milik saya itu. “Ogah kalau dipotret pakai kerudung”, begitu katanya. Sedangkan teman-teman perempuan tampak begitu bersemangat mematut diri dengan kerudung didepan kaca toilet dan sebagian lagi yang tidak bisa menggunakannya pasrah didandani kerudung ala wanita berjilbab oleh teman-teman lainnya, daan..… action !! Maka jadilah foto-foto ini :)

Ceritanya bermula saat tiba waktunya bagi saya untuk memulai kursus bahasa Jerman lewat program “Integration Course” awal Oktober tahun 2009. Aktivitas baru ini lumayan menyita waktu karena dilakukan 4 hari dalam seminggu, setiap Selasa s.d Jum’at pk. 09.00 – 13.15. Praktis waktu yang benar-benar luang buat diri sendiri hanya setiap hari senin saja (sabtu-minggu adalah waktu buat keluarga) atau pada saat anak-anak sekolah mendapatkan liburan panjang dari sekolahnya.

Hari pertama kursus dimulai, chemistry-nya mulai terasa, orang-orangnya friendly dan welcome sekali. Di kelas kami terdapat 12 orang peserta, 3 laki-laki dan 9 perempuan, usianya berkisar antara 25 – 43 tahun dan berasal dari Rusia, Ukraina, Moldavia, Eslandia, Irak, Turki dan saya sendiri, Indonesia. Peserta muslim hanya ada 2 orang, saya dan teman laki-laki asal Irak, otomatis yang berkerudung hanya saya sendiri, yang lama kelamaan kemudian jadi menimbulkan rasa penasaran teman-teman sekelas dan bertanya “Rambutmu warnanya apa? Seberapa panjang?“ hehee… Mau tau aje !
Namun meskipun berbeda-beda asal negara dan latar belakang begitu, kelas kami cukup kompak, heboh, dinamis dan bahkan keakraban itu bagi para teman perempuan berlanjut diluar acara kursus,
Pernah salah seorang teman baik saya di kelas, Lyubov, seorang perempuan yang sangat cerdas dan dahulu berprofesi sebagai sutradara teater di Moscow namun kini di Jerman dia harus cukup berpuas diri menjadi ibu rumah tangga dengan 3 anak, berkata pada saya “Irna, du bist eine schöne Frau (Irna, kamu seorang perempuan yang cantik (katanya lhoo...prikitiw :)), dan kamu sekarang tinggal di Jerman, sesuaikanlah gaya hidup kamu dengan tata cara disini…bukalah kerudungmu, dan kalau kamu pulang ke Indonesia kamu bisa pakai kembali kerudungmu dan bla..bla..bla…” Saya hanya menanggapinya dengan manggut-manggut dan senyum-senyum, masukan merekapun hanya numpang lewat, masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri hehee… tapi saya sempat menjelaskan pada mereka bahwa masalah kerudung ini sudah menjadi keputusan penting dalam hidup saya sejak pertengahan tahun 2006 lalu dan mudah—mudahan saya bisa selalu konsisten. Insya Allah. Alhamdulillah, sejauh ini mereka tetap menghargai prinsip saya dan hubungan kami tetap terjalin baik.

Ngomong-ngomong tentang keakraban kami diluar kursus, saya jadi ingat, waktu itu kami para perempuannya pernah membuat janji untuk makan malam bersama di sebuah restoran Libanon di Dresden, tanpa membawa anak masing-masing tentunya :)) Sebetulnya acara ini dilakukan lebih karena kami semua penasaran ingin menyaksikan rame-rame “tarian perut” di restoran tersebut yang direkomendasikan oleh guru kursus kami dibandingkan mencoba makanannya hehee…
Saat makan malam tiba dan kami telah berkumpul, saya pun melihat bagaimana teman-teman Rusia dan Ukraina itu mengenakan gaun malam dan pakaian kasual dengan belahan dada sangat rendah yang membuatnya tampak “tumpah ruah” hihii.. sementara saya tetap setia dengan kemeja lengan panjang dan pullover serta jeans dan tentu saja kerudung! Penampilan yang sebetulnya tidak mereka harapkan :p karena mereka “ingin melihat Frau Fauline yang berbeda malam ini” katanya.

Malam itu untuk pertamakalinya pula mereka menyadari bahwa dalam seumur hidup saya, saya belum pernah (dengan sengaja) meminum alkohol. Mereka pikir selama ini saya hanya “menjauhi” alkohol demi menjaga kesehatan semata, karena saya selalu bilang “ohne/keine alkohol” (tanpa alkohol) kalau ditanya minuman apa yang paling saya gemari. Padahal dalam kenyataannya, saya memang belum pernah meminum alkohol dalam arti sebenarnya. Saat itu teman-teman memesan “Rotwein” (redwine) dan “Weisswein” (white wine), sedangkan saya cukup minum Grüner tee alias teh hijau saja hehee..

Menginjak bulan ke-4 di tempat kursus, rasa penasaran dan pertanyaan mereka belum juga hilang, malah semakin bertambah dan sengaja didiskusikan didalam jam pelajaran dengan guru kursus kami saat terdapat materi yang sedikit relevan dengan “rambut” :))
Sekalipun pada suatu kesempatan yang sesuai dengan pembahasan dalam modul kursus di kelas, saya pernah menunjukkan kepada teman-teman foto saat pernikahan saya dan suami, juga potongan kecil foto wisuda saya (yang sebelumnya tersimpan dalam dompet suami :) serta foto-foto keluarga selama di Indonesia saat saya belum berjilbab, namun semuanya itu belum juga memuaskan rasa penasaran mereka. Teman – teman suka bilang, “Irna, bitte kommst du ein mal ohne Koptuch zum Unterricht!” (Irna, datanglah sekali saja ke kursus tanpa jilbab, please!“ hehee... No away!!
Saya sampai kehabisan alasan untuk bersilat lidah agar diterima lebih rasional dengan alam pikiran mereka yang non Islam…. Tapi biasanya pembahasan itu selalu berujung dengan ketawa-ketiwi kami dan saling melempar ‘joke’ segar. Indahnyaa dunia ini... penuh warna!!

Sampai suatu ketika guru kursus kami Frau Kretschmer, seorang Naturalist, berusia 35 tahun, a lovely and wise woman, menyarankan dan berkata dalam kelas pada saya di hadapan semua teman-teman „Frau Fauline, bagaimana kalau suatu hari anda membawa koleksi kerudung anda ke kelas ini dan kita semua bisa mencoba mengenakan kerudung itu bersama-sama?“
Teman-teman kelas langsung setuju dan bilang „Jaaa!“. Saran yang bijak namun agak konyol menurut saya, tapi dengan cepat langsung saya jawab „Warum nicht?“ (mengapa tidak??)

Dan inilah hari yang dimaksud itu, minggu lalu akhirnya tersampaikan juga deh kami semua berkerudung bersama-sama. Teman – teman kelas dengan antusias memilih kerudung-kerudung yang sengaja telah saya bawa dan disiapkan dari rumah. Para Frauen mencoba kerudung dengan berbagai gaya dan warna di kepala, sedangkan teman laki-laki menyulapnya menjadi dasi. Kesempatan langka ini pun tak lupa saya abadikan dalam foto, kelas menjadi ramai mirip suasana di toko penjual kerudung, hebohh !!
Sayangnya 4 orang teman lain di kelas kami berhalangan hadir hari itu karena sakit, maklumlah cuacanya masih dalam transisi pergantian ke musim semi sehingga banyak yang rentan sakit, padahal yang tidak hadir itu 2 orang diantaranya adalah „bintang kejora“ di kelas kami, karena cantiiik !!
Namun begitu, hal itu tetap tidak mengurangi rasa antusias dan kehebohan para Frauen yang ada untuk mencoba-coba bergaya dan mematut diri dengan nuansa lain di depan cermin dalam parade kerudung... :))


Dresden, 28 Maret 2010 (Cerita lama dari Note FB yang baru diposting disini  :)

Rame-rame pose depan Euro SchulenCeriaa.!!..With Frau Kretschmer, our lovely German teacherRame-rame dalam kelasIrina Lyubov, yang akrab kami sapa Luba, bergaya dengan kerudung yang dikenakannya sendiri, jago deh :)Frau Ganzky, yang juga kreatif pasang sendiri jilbabnya :)Rima ValkenbergLuba dengan burka :)

Mualaf di Gemerlapnya Wina

Musim semi awal April 2010  pada kunjungan perjalanan 3 hari di  Wina, Austria, ada pengalaman yang sangat membekas dan selalu terekam dalam ingatan saya.

Siang itu di sekitar area Stephen’s Dom, Wina, sesudah kami cukup puas  berputar-putar di oldcity dan akan menuju ke objek wisata berikutnya, saya dan suami agak sedikit bersitegang. Penyebabnya biasanya enggak jauh-jauh dari keinginan saya yang tidak bisa menahan diri untuk memotret mengabadikan gedung-gedung dan suasana nan indah di suatu kota baru yang pertama kali kami kunjungi, termasuk memotret anak-anak kami juga. Maklumlah, bagaimanapun  nuansanya berbeda dengan Dresden hehee.. jadi saya pikir kapan lagi dalam waktu dekat bisa mengambil foto-foto pemandangan disitu. Apalagi kunjungan kami pun singkat, hanya menginap 2 malam di Wina  padahal tempat yang akan kami kunjungi masih banyak, tidak mungkin satu objek sempat 2x terkujungi. Tetapi menurut suami, karena liburan itu milik kami bersama dan anak-anak  pun  berhak menikmatinya maka  sangatlah tidak bijaksana  seandainya saya  asik sendiri menjeprat-jepret dan seolah-olah mengabaikan dia dan anak-anak. Oo…oo… padahal saya sama sekali tidak bermaksud begitu, saya pikir dalam kurun waktu singkat menjeprat-jepret itu, (seringnya pake automatic pula karena tidak ada waktu untuk mengatur-atur secara manual disamping kemampuan teknik yg  belum canggih tentunya hehee) dan selama anak-anak termonitor dengan aman dibantu suami, saya juga sudah membuat kenang-kenangan bagi kami sekeluarga dan suatu saat bisa menunjukkan kepada anak-anak dan berkata  “ooh ini lhoo foto kalian waktu di tempat anu di Wina… ooh itu lhoo gaya kalian waktu berkunjung ke Riesenrad..”.  Seperti simbiose mutualisme begitulah… Tapi tentulah dua kepala akan punya dua pikiran yang berbeda. Well, okelah kalau begitu… kan istri harus nurut sama suami  yah  :))

Jadi, sambil masih kesal karena keinginan saya memotret tidak tersampaikan, :p  naiklah kami kedalam sebuah bus merah yang khusus dipakai dalam jalur turis oldcity-nya Wina. Saya lupa istilahnya apa, yang jelas bus merah kecil itu berisi sedikit kursi dan penumpang yang tidak penuh, sebagian kursinya ada yang berhadapan seperti posisi kursi dalam angkot di Indonesia.  Saya dan suami duduk berdampingan dan berhadapan dengan 2 orang asing  didepan kami. Kami pun bicara yang singkat2 seperlunya karena satu sama lain masih merasa kesal. Anak-anak  duduk diseberang samping kami dan asik mengoceh terus dalam bahasa Jerman membicarakan apa saja yang mereka lihat sepanjang perjalanan, sampai akhirnya si bungsu bertanya dalam bahasa Indonesia “Apa artinya drei (3) Musketeer?”  lalu saya jawab, “ Mama enggak tau, yang mama tau cuma cerita filmnya Three Musketeers (filmnya Kiefer Sutherland) aja, tapi itu sama enggak ya?”  Suami pun sama tidak faham betul.

Spontan, tiba-tiba saja salah satu penumpang dihadapan kami, wanita cantik pirang  berusia sekitar 43 tahun dengan busana eksklusif dan simpatik  bertanya kepada kami  dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih “Anda berasal dari Indonesia?”  saya dan suami tentu saja kaget sekali. Huahhh, bahasa tubuh kami yang sedang kesal dan bicara pendek2 itu tentulah dimengerti oleh orang itu  :p  Tiba-tiba saja kami merasa malu kepada diri sendiri... Lalu wanita itu bilang, bahwa dari tadi dia ingin bertanya kepada kami, tapi karena anak2 kami selalu bicara dalam bahasa Jerman maka dia hanya mengamati saja. Selanjutnya, dia  menjelaskan arti 3 Musketeer kepada anak2 kami dalam bahasa campuran Indonesia-Jerman  :D
Dunia sempit.com judulnya, saya pikir selama kami marah di negeri asing, bule-bule enggak akan mengerti, ternyata kami yang terkecoh hahahahaa..
Kemudian saya dan suami pun langsung meluncurkan pertanyaan2  karena rasa penasaran kami  “Wahh hebat, bahasa Indonesia anda bagus sekali.. pernah ke Indonesia?”  “pernah berapa lama tingggal di Indonesia?” dan bla bla bla pertanyaan2 lain...

Ternyata wanita ini asli Wina, pernah hampir 8 tahun tinggal bolak-balik Austria-Indonesia dan mengunjungi ke banyak kota di Indonesia. Artikulasi bahasa Indonesianya terdengar sangat jelas dan dia bisa memilih kata-kata yang tepat untuk berkomunikasi yang dipakai orang Indonesia umumnya. Dia juga sangat menyukai suasana dan kultur Indonesia termasuk makanan2nya. Kami terus mengobrol dalam bahasa Indonesia, sehigga penumpang lain memeperhatikan kami.
Sampai suatu ketika dia bertanya kepada saya “Anda muslim kan?” padahal saya pakai kerudung hehee...(belakangan saya mahfum, karena ternyata wanita2 orthodox pun banyak yang memakai kerudung ala muslimah Turki). Saya jawab “Ya”.  Lalu dia bilang “Saya juga muslim”. Saya lalu mengejar dengan pertanyaan “Bagaimana anda bisa menjadi muslim?”  dia lalu menceritakan, bahwa saat kejadian tsunami besar menghebohan tahun 2004 lalu dan memakan korban ribuan jiwa di banyak negara termasuk di Aceh itu dia sedang berada di sebuah desa pantai di Srilanka. Saya tidak menanyakan lebih lanjut apa yang dia lakukan saat itu di Srilanka. Mungkin berlibur. Yang jelas sejumlah 220 orang yang sedang berada di desa pantai itu semuanya meninggal tidak tertolong  kecuali dia seorang diri yang berhasil selamat. Dan sejak itulah dia memeluk Islam. Saat mendengarkan ceritanya, tiba2 saja bulu kuduk saya berdiri, merinding, Subhanallah! Allah telah memberikan hidayah bagi hambaNya yang terbiasa hidup dalam gemerlapnya kota Wina yang sangat cantik dan dalam tatanan sosial masyarakat kristiani dengan cara yang tidak terduga. Saya berpikir mungkinkah di desa itu ada satu mesjid atau mushola yang tetap berdiri tegak sebagaimana halnya terjadi di Banda Aceh, sehingga dia memutuskan untuk memeluk Islam?? Wallahualam..

Karena belum sempat kami melanjutkan pembicaraan, tiba2 bus merah kendaraan kami telah sampai pada halte yang kami tuju. Mengingat waktu metro/u bahn tujuan kami berikutnya hampir tiba dan planning kami telah terjadwal maka kami pun dengan agak tergesa-gesa turun dari bus. Kaget dengan perhentian mendadak karena asik mengobrol. Wanita itu pun turun juga, hanya saja ke arah yang berlawanan dengan tujuan kami. Sempat terbersit dalam pikiran untuk menanyakan nama, alamat atau telepon... tapi karena  pertemuan yang sangat singkat dan saya khawatir itu menjadi tidak sopan bagi kultur mereka maka saya pun mengurungkan niat tersebut. Kami berpisah, tersenyum sambil berkata "Sampai jumpa" dan saling melambaikan tangan.  Belakangan saya menyesal, kenapa saya lupa menanyakan emailnya... mungkin dengan begitu komunikasi kami akan terus terjalin dan barangkali dia membutuhkan sesuatu atau informasi yang berhubungan dengan keIslamannya atau dengan Indonesia yang disukainya  saya bisa membantunya. Tapi... ya sudahlah, saya tidak mempunyai mesin waktu dan memutar kembali ke kejadian saat itu. Saya hanya bisa mengirimkan do’a tulus baginya, siapa pun namanya dan dimanapun tinggalnya, untuk wanita mualaf itu, yang juga telah menyentakkan kesadaran kami, saya dan suami, bahwa kami tidak boleh menganggap enteng orang asing di hadapan kami  tidak mengerti bahasa verbal dan non verbal dalam bahasa Indonesia sekalipun! Semoga saja iman Islamnya tetap terjaga dan dia diberikan kemudahan serta kelancaran menjalani  agama baru dalam hidupnya. Amin.


Dresden, 15 November 2010

Sunday, February 5, 2012

Mendadak Seleb di Kota Hof

Salju turun lagi. Padahal salju sebelumnya masih enggan meleleh,  membuatnya bertumpuk dan semakin tebal. Salju tebal  diawal winter kali ini mengingatkan pada kejadian  setahun lalu  saat puncaknya winter, yang dinginnya menggigit  dan  mencapai minus 19 derajat celcius di Dresden. Salju tebal diatas 20 cm yang menyebabkan orang berjalan  terseok-seok, tergelincir dan memerlukan lebih banyak energi  untuk sampai ke tujuan. Salju tebal yang mengubah jadwal trem dalam kota  berpindah jalur atau menjadi beberapa puluh menit lebih lambat kedatangannya  serta mencetus kecelakaan lalu lintas di jalan raya meningkat tajam. Salju tebal yang membuat sebagian pengendara roda empat lebih baik “mempensiunkan” sementara kendaraanya dirumah daripada beresiko macet berjam-jam di jalanan tol, tergelincir, selip atau kecelakaan di tengah jalan dalam cuaca yang muram. Amboi, jauh sekali dari gambaran indahnya negeri  bersalju  selagi saya masih di Indonesia!

Awal Januari 2010 dalam cuaca dingin bersalju yang  menutupi hampir semua permukaan ladang,  jalanan dan pemukiman  sepulang kami  sekeluarga  berlibur tahun baru, dari Munchen kami menuju ke Dresden dengan menggunakan kereta.  Sesampai di kota Hof  - sebelah barat daya, 2 jam perjalanan dari Dresden - kota dimana kami transit,  ternyata  diinformasikan bahwa kereta yang kami tunggu mengalami keterlambatan. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena salju yang terlalu tebal sehingga menimbulkan kecelakaan lalu lintas, sedangkan  rute yang kami tuju termasuk dalam  zona  kecelakaan tersebut. Maka delayed-lah kendaraan tumpangan kami itu sampai lebih 2 jam lamanya.

Waktu menunjukan pukul 13.20  dan perut kami bernyanyi kembali, padahal kami sudah makan  perbekalan  pukul 11an siang itu dalam kereta. Begini akibatnya kalau perut orang Indonesia diganjal  roti. Istilah populernya, enggak nendang!  Udara sangat  dingin pun membuat perut kami jadi lebih sering keroncongan, bikin be-te bagi yang ingin menurunkan berat badan saja.. :((  Setelah berdiskusi dengan suami dan anak-anak, disamping kami belum melakukan sholat dhuhur pula maka kami memutuskan untuk singgah ke centrum kota Hof atau yang lebih dekat, mencari rumah makan dan mudah-mudahan menemukan mesjid juga.

Dalam salju tebal dan perlengkapan ‘tempur’ melawan dingin berikut tas punggung yang kami bawa, maka berjalanlah kami dari hauptbahnhof (stasiun utama) ke arah pusat kota yang petanya terpampang di salah satu dinding stasiun. Sambil mnyusuri jalanan bersalju mata kami selalu mencari-cari barangkali ada rumah makan Turki atau Cina yang terlewat. Syukurlah, sekitar 600 meter dari hauptbahnhof setelah bertanya-tanya pada orang-orang sekitar  akhirnya kami menemukan restoran Turki, halal pula, namanya  Sultan Palast. Bangunan dari luar tampak kecil tapi setelah masuk kedalamnya terasa bahwa restoran ini cukup luas terutama di lantai 2. Daftar harga makanan yang terpampang pun untuk standar daerah Bayern relatif tidak terlalu mahal, sama seperti harga rata-rata makanan Turki umumnya. Saya dan suami memesan masing-masing satu porsi makanan, begitu pula anak-anak, hanya saja mereka memesan Kids Menu dalam porsi lebih kecil yang isinya tidak jauh-jauh dari kentang goreng dengan salad  berikut ayam kesukaan mereka.

Ternyata menu pesanan saya Hawaiian Dönerteller, döner dengan potongan daging sapi muda (kalb), sayuran dan nenas  jauh lebih banyak dari yang dibayangkan, padahal harganya waktu itu  hanya  4,5 euro. Saya sampai tak mampu menghabiskannya karena terlalu banyak. Suami pun tidak bisa membantu seperti biasanya karena makanan pesanannya seharga 7 euro jauh lebih banyak lagi !
Tapi ada yang lain kali itu, selama saya makan döner dimanapun,  belum pernah saya merasakan döner seenak itu. Sausnya terasa berbeda dari saus-saus umumnya, warnanya  kuning terang  dan terasa seperti dicampur sedikit bumbu kari. Lezat betul, pas sekali dengan potongan nenas yang ada didalamnya. Terasa segar di lidah. Tapi biar begitu saya tetap tak mampu menghabiskannya sendiri, perut ini terlalu penuh rasanya. Jangan sampai nanti  jadi sulit berjalan kaki karena kami masih harus mencari mesjid. Untunglah para pelayan yang ramah dan menanyakan negara asal kami mau menunjukkah di mana mesjid berada. Beruntung lagi karena jarak mesjid tidak  jauh dan terlihat pandangan mata dari restoran. Maka  dalam salju yang perlahan turun lagi kami berjalan menuju ke arah mesjid, yang bangunannya dari luar sama sekali jauh dari kesan mesjid di Indonesia. Seperti bangunan apartemen  umumnya,  yang  disewa atau dibeli oleh para jamaahnya, itu yang membuat agak sulit  dicari bila kita tidak tahu sebelumnya atau paling tidak pernah mendengar di daerah mana lokasinya.

Didepan mesjid kami membaca sekilas tulisan yang terpampang disamping pintunya :   Ayasofya Camii, Koenigstrasse 64  Hof.  Kami masuk kedalam, bertemu dan saling mengucap salam dengan seorang bapak yang sepertinya baru selesai berwudhu. Dia sempat menanyakan asal kami, dan kami jawab dari Indonesia, responnya baik. Karena anak-anak dan barang-barang  tidak ada yang menjaga maka saya dan suami sepakat bergantian shalat, bagaimanapun di daerah baru dan asing kami harus selalu berhati-hati. Tiba-tiba bapak yang megucap salam tadi berkata pada kami “Perempuan sholatnya di atas”  sambil menunjukkan tangan keatas. Oooh... jadi ada ruangan perempuan terpisah juga rupanya, syukurlah batin saya dalam hati., refleks mata saya melihat keatas bangunan. Lalu bapak itu tanpa diminta berjalan menaiki tangga dan mengetuk pintu ruangan di atas. Saya memperhatikan dari bawah, dari balik pintu muncul  seorang wanita cantik berkerudung. Sayup-sayup  terdengar mereka berbicara dalam bahasa yang tidak saya mengerti, mungkin Turki atau Arab. Kemudian bapak itu turun lagi sambil mempersilahkan saya ke atas, dan wanita tadi tersenyum menyambut saya dan menyuruh saya dan anak-anak masuk kedalam. Setelah masuk kedalam di bagian koridor, selagi saya dan anak-anak  melepaskan sepatu,  perempuan itu bertanya  kepada saya “Anda berasal dari mana?” saya jawab “dari Indonesia” . Lalu perempuan itu berjalan keruangan lain. Saya pun melanjutkan membantu anak-anak melepaskan perlengkapan yang saat winter jadi banyak ‘ritual’  yang harus dilakukan ;  melepaskan jaket tebal, syal, topi hangat, sarung tangan dan embel-embel lainnya. Huahh, begitu merepotkannya kau winter!

Baru saja selesai melakukan “ritual” tersebut tiba-tiba  dari ujung koridor lain bermunculan para perempuan cantik berkerudung,  ibu-ibu, remaja  dan anak-anak. Mereka menyalami saya dengan ramah “Assalamu’alaikum”... menanyakan asal saya, mengelilingi saya, Kinan dan Obbie, sebagian lagi  memegang bahu saya, menyentuh kerudung, mengelus-elus manik-manik di kerudung saya dan menanyakan pertanyaan  ramah lainya kepada saya, juga  kepada anak-anak. Baiik sekali mereka, bahkan menurut saya terlalu baik dan terlalu  ramah untuk kesan pertemuan pertama kali. Saya malah jadi  merasa heran, sedikit curiga dan bertanya-tanya dalam hati “Koq bisaa ya???”

Tangan saya ditarik salah seorang  ke ruangan cukup luas dibalik dinding koridor itu, dan rupanya disitu telah berkumpul sekitar 30an perempuan, tua muda. Di ujung ruangan terdapat dapur cantik dengan “island” dan perlengkapan serba modern berwarna krem. Beberapa wanita tampak berdiri di depan pantri menyiapkan makanan dan sebagian besar lagi duduk diatas beberapa bangku panjang mengapit meja besar panjang yang dipenuhi dengan beragam makanan;  kue-kue, nasi, daging dan lain-lain. Sepertinya sedang ada perayaan atau semacam pesta disitu. Seorang wanita yang sejak di koridor tadi paling sangat ramah menanyai saya, mempersilahkan saya duduk dan memperkenalkan saya pada yang hadir disitu dan -tentu saja- mengatakan sekali lagi  bahwa saya dari Indonesia. Dan berdatanganlah tawaran untuk memakan ini dan itu, teh, kopi, susu dan lain-lain, sambil  beberapa wanita tetap berdiri mengelilingi saya yang tanpa sadar sudah ikut duduk bergabung di bangku panjang menghadap meja besar itu. Antusias sekali mereka tampaknya terhadap saya. “Ada apa ya??” batin saya dalam hati. Tiba – tiba saja saya  serasa mendadak jadi selebriti!  Alih–alih berpikir lanjut, saya hanya membatin “Ooh  begini mungkin  rasanya menjadi Titi Kamal itu...”  Cuma kurang minta tanda tangan saja. Hahahaaa !!

Sayangnya perut saya masih sangat penuh karena döner  tadi,  jadi saya tidak berselera memakannya.Mungkin hal ini memberikan impresi lain bagi mereka tentang perempuan Indonesia ;  mengapa ukuran tubuh perempuan Indonesia tetap mungil  dibandingkan ukuran tubuh mereka. Padahal seandainya saja perut ini kosong pastilah semua sudah saya cicipi  karena terkesan dengan beberapa macam makanan asing yang baru pertama kali dilihat.. Sayangnya lagi  saya tidak diperbolehkan memotret mereka sewaktu saya meminta izin sebelumnya. Malah seorang ibu paruh baya tiba-tiba  raut mukanya berubah mengeras setelah mendengar permintaan saya itu. Belakangan setelah bubar sholat maghrib -yang saat itu jatuh sekitar pk.16.30an- dan sebagian perempuan  pulang ke rumah, saya baru menyadari bahwa diantara mereka yang berada dalam ruangan tadi keluar mesjid  dengan mengenakan cadar !

Hari itu minggu, entah sejak kapan dimulai setiap hari minggu menjadi jadwal pertemuan rutin di mesjid muslimah Ayasofya  sambil mengaji. Sepertinya mereka semua orang-orang  Turki karena saya tidak menanyakanya. Tapi mesjid itu memang mesjid  Turki di Hof. Dan setelah berbincang-bincang agak lama sambil minum teh barulah saya mengerti alasan saya diperlakukan istimewa begitu. Selidik punya selidik rupanya setiap sebulan sekali mereka memanggil penceramah muslimah datang kesitu, bisa dari dalam dan luar negeri. Penceramah terakhir berasal dari Malaysia, tapi saya lupa menanyakan namanya. Dan sepertinya mereka sangat terkesan dengan ibu ustadzah tersebut. Beruntunglah saya, karena ditengah-tengah ‘hubungan memanas’ Indonesia dengan Malaysia di tahun-tahun sebelumnya atas kasus-kasus mulai dari TKI, Selat Ambalat, batik, penangkapan kapal nelayan asing, lagu Rasa Sayange sampai Manohara, masih ada wanita mulia yang membicarakan hal-hal  baik tentang Indonesia, tentang keramah tamahan penduduknya, keindahan pulau-pulaunya, tentang banyaknya perempuan berhijab disana tapi selalu modis, dan lain-lain yang tidak saya ketahui secara detail. Hanya saja dari pengalaman yang saya peroleh tentang bagaimana cara mereka memperlakukan saya dan anak-anak dengan sangat sangat baik, ceramah ustadzah itu tentu membuat mereka merasa antusias dan sangat ingin mengenal Indonesia dan juga  mengunjunginya. Beruntunglah saya, waktu itu saya datang pada saat yang tepat. Salah seorang perempuan berkata pada saya “Kami semua tertarik tentang Indonesia dan sedang berandai-andai bilamana kami bisa kesana dan tiba-tiba datanglah anda...”  Jadi, saya mendapatkan durian runtuh!  Durian yang diperoleh karena kemuliaan hati ustadzah Malaysia itu. Saya jadi bertanya pada mereka, apakah mereka tidak pernah bertemu orang Indonesia disitu? Katanya sih, tidak. Saya sendiri tidak yakin dengan jawaban itu, kemana gerangan wahai orang Indonesia di Hof? Saya tahu mereka  selalu ada  di seluruh pernjuru kota di Jerman!  Keasikan berbincang-bincang dengan mereka, membuat saya  lupa bahwa saya ke mesjid sebetulnya untuk shalat, akhirnya  saya  ringkas shalat dhuhur  di waktu ashar.

Lain lagi dengan pengalaman  anak-anak. Demi melihat ibunya dikerumuni dan banyak ditanyai para ibu di ruangan makan merangkap dapur itu, diam-diam mereka diajak para ABG dan anak lainnya keluar ruang tersebut,  bermain diruangan lain yang lebih luas -tempat shalat berjamaah-  berkarpet tebal. Kinan dan Obbie dikelilingi anak-anak dan para ABG yang cantik-cantik itu. Mereka memberikan buku dan alat tulis, juga banyak pula menanyai dan mengetes anak-anak saya. Mereka heran karena Kinan yang bertubuh kecil  sudah pandai membaca huruf Latin, lancar membaca Al-Qur’an dan berhitung. Ya jelas saja, waktu itu Kinan hampir  berumur 7,5 tahun. Lagi pula sejak di Indonesia sesudah tamat Iqra, Kinan  tidak mau baca Juz Amma,  maunya langsung baca Al Qur’an besar dan  membaca  surat  Al-Baqaraah yang  sampai  sekarang belum tamat juga karena saya lebih sering mengajari surat-surat pendek sebagai  bekal bacaan shalat. Jadi mereka terpedaya oleh tubuh kecilnya dibandingkan ukuran tubuh mereka hehee..  Mereka semuanya cantik dan lembut, yang saya ingat satu orang ABG bernama Aisyah. Namun kali ini saya boleh bersenang hati, karena teman-teman kecil ini bahkan para ABG tak berkeberatan saya curi-curi fotonya bahkan mereka kemudian mau bergaya depan kamera, jadi saya masih punya kenang-kenangan tentang pengalaman di Hof  :-))

Setelah saya dan anak-anak selesai sholat maghrib, kami pun berpamitan pada sebagian orang yang masih tinggal disana dan turun mencari suami yang hampir 2 jam lamanya tertinggal di bawah.
Ternyata suami pun memiliki pengalaman serupa, dia diperlakukan dengan baik oleh orang-orang yang sholat berjamaah disitu, berdiskusi, dijamu minum teh, kopi di kantin mesjid bahkan dibekali makanan khas Turki  serta  beberapa kue diatas piring kertas dari hidangan mesjid. Katanya, untuk bekal dalam perjalanan di kereta. Padahal kami jelas sudah tak sanggup lagi memakannya!   Selain itu salah satu orang Turki  teman bicaranya disitu  yang ternyata seorang engineer dan bekerja di  perusahaan semikonduktor juga  akhirnya jadi ‘nyambung’ dalam diskusi panjang dengan suami, bahkan berbaik hati mau mengantarkan kami dengan mobilnya sampai ke hauptbahnhof. Waktu kami sempat menayakan “Mengapa anda begitu baik kepada kami?”  Yang terluncur dari mulutnya  hanya “Sebagai sesama muslim kita harus baik dan saling menolong!”  Adem betul mendengarnya, singkat tapi sarat makna. Membuat saya jadi menerawang memikirkan seandainya saja di Indonesia seluruh muslimin-muslimah mempunyai pemikiran yang sama seperti itu.... maka damailah negeriku.
Kami bersyukur dengan kebaikannya untuk mengantar kami,  karena tanpa disadari salju diluar ternyata  turun semakin lebat  selama kami berada dalam mesjid  dan langit berubah  gelap. Kami pulang dengan diantarkan 3 ABG yang cantik-cantik itu  sampai ke pintu mobil di depan mesjid. Salju yang turun tak mereka hiraukan. Mereka menunggu kami dan melambaikan tangan sampai pandangan tak terlihat. Akhirnya, kami pulang ke Dresden dengan jadwal kereta berikutnya karena kereta yang semula kami tunggu sudah lama  berlalu. Namun  begitu kami merasa puas dan bahagia karena hari itu mendapatkan pengalaman luar biasa yang semakin menanamkan keyakinan dalam diri kami bahwa diluar sana masih banyak orang-orang baik hati  yang siap membantu kapan saja, dimana saja, di negeri asing sekalipun .

Lewat kartu pos yang saya beli menjelang kereta datang,  saya melihat beberapa objek wisata menarik di Hof  dan  terbersit untuk mengunjunginya. Nantikan kami Hof, suatu saat kami akan kembali lagi, mengunjungi mesjid yang sama dan menjelajahi kota cantikmu itu.


Kirchheim Teck, 2012. ( Tulisanku lebih setahun lalu... yang pengalamannya selalu terpatri manis dalam hati)




**Restoran Sultan Palast :  http://www.sultan-hof.de/index.php?content=galerie
**Hof, Germany : http://de.wikipedia.org/wiki/Hof_%28Saale%29


Mulanya curi-curi foto..
Ternyata mereka tidak berkeberatan.. :-)
Akhirnya pose bareng..
Jepret sekali lagi.. :-))

OMG!! Pendidikan Sex di Usia Kindergarten ???

Judul diatas sempat menjadi topik menarik bapak2, ibu2 dan lajangers saat kami  para Dresdener kumpul bersama menyambut malam tahun baru 2011 di rumah salah seorang teman Indonesia kami.  Setelah sempat berbulan-bulan tertunda karena kesibukan yang tidak jelas, akhirnya tersampaikan juga saya menuangkan pegalaman ini. Bagi saya pribadi,  ini menjadi salah satu renungan di penghujung tahun 2010. Saya yakin, kegelisahan ini  tidak hanya dialami para orang tua yang  tinggal dan  menyekolahkan anaknya di Jerman saja, tapi juga di seluruh Eropa atau belahan dunia manapun yang notabene  kulturnya barat dan dan sangat berbeda dengan nilai-nilai di Indonesia. Tanpa mengurangi rasa kesopanan, foto-foto yang berasal dari sebuah buku bacaan anak usia Kindergarten dan menjadi objek pembicaraan kami saat itu  saya tampilkan disini dengan harapan agar kita  para orang tua  lebih siap dan  responsif.

Pengalaman ini sebetulnya tidak disengaja, bermula dari liburan Natal tahun lalu saat salju dingin mengguyur dan tebal menyelimuti Dresden. Sambil memenuhi keinginan anak2 yang ingin bermain seluncur dengan schlitten diluar, kami bertiga menuju bibliothek –perpustakaan-- kota yang jaraknya sekitar 250 meter dari rumah. Seperti biasa, sesampainya di bibliothek saya langsung ke arah rak dimana film-film DVD tersusun dan anak-anak menuju ke pojok baca ruangan buku anak-anak. Setelah memilih beberapa DVD dan buku-buku yang akan  dipinjam saya pun menyusul ke ruangan baca anak.
Saya lihat si sulung duduk diatas tatami mini berkarpet dengan bantal-bantalnya  sedang asik menekur membaca buku Donad Duck,  si bungsu pun demikian, asik membuka-buka buku yang dipegangnya. Saya perhatikan judulnya “Woher die kleinen Kinder kommen” (Darimana anak kecil berasal) Saya tersenyum sendiri dalam hati, untunglah kalau dalam buku tersebut ada penjelasan yang bisa memudahkan saya menerangkan darimana bayi berasal seperti yang selama ini pernah ditanyakan Kinan dan Obbie. Anak-anak memang sedang masanya ingin tahu, dan selama ini saya hanya menjawab bahwa mereka keluar dari perut mamanya setelah berusia 9 bulan 10 hari  dan bla bla bla.. tanpa penjelasan bagaimana cara memproduksinya tentu saja hehehe..

Tak lama setelah saya ikut merebahkan diri diatas tatami, Obbie (kelas 1 SD, saat itu 6,5 thn) menghampiri saya yang sedang duduk disebelah tetehnya. Dia bilang „Mama di bibliothek kindergarten Obbie dulu juga ada buku ini, juga yang ini, ini, ini“ sambil menunjukkan kearah susunan buku lain di rak  buku yang hampir serupa jilidnya dengan judul berbeda.  Lalu  „Mama, Obbie mau pinjam buku ini“ aku jawab „Iya. Mama boleh baca juga kan?“  dia mengangguk sambil melihat-lihat ke arah buku lainnya yang berjejer rapi di rak. Aku pun lalu mulai membuka-buka dan membacanya. Halaman-halaman dalam buku itu memiliki jendel-jendela yang bisa dibuka dengan gambar yang berbeda didalamnya. Halaman pertama dan kedua tentang anatomi,  ada gambar anak kecil laki-laki dan perempuan berbaju. Begitu dibuka, maka terdapat gambar dibalik jendela itu keduanya telanjang lengkap dengan alat kelaminnya. Lalu ada gambar perempuan dan laki-laki dewasa, yang dibalik jendela2nya juga memperlihatkan alat reproduksinya. Oohh... ini pelajaran waktu saya kelas 2 SMP, batin saya dalam hati. Kemudian sampailah saya pada gambar seorang anak  laki-laki  yang sedang berdiri di depan pintu kamar orang tuanya, disitu tertulis pertanyaan  „.Ob Mama und Papa schon wach sind?.“ (Ketika mama dan papa sudah bangun?) Dan begitu jendela kecil diatas gambar tersebut dibuka..... Masya Allah!!!  Saya terkesiap dengan gambarnya. Meskipun tidak sampai shock berat  tapi saya sempat  terbengong bengong hilang pikiran dan beberapa saat jantung saya serasa berhenti berdenyut. Dibawah jendela gambar pintu kamar itu terdapat gambar laki-laki dan perempuan dewasadalam posisi berhubungan intim dengan perempuan diatas!! Saya mencari-cari  ke arah cover  buku, benarkah buku itu bacaan untuk anak (???) dan ternyata memang di bagian belakang cover buku tersebut terdapat tulisan seri „Kindergartenalter“
Yang lebih parah lagi, gambar itu disertai tulisan penjelasan bagaimana orang tua sebagai pasangan, memadu kasih dibalik pintu kamar tidur yang bila diterjemahkan menurut saya terasa vulgar buat anak seusia kindergarten.
Huhuhuhuu....  ingin menangis dan menjerit saja rasanya, mengapa gambar seperti itu sekalipun berupa kartun harus ada dalam buku tersebut???  Saya belum siap menerima kenyataan bahwa Obbie  pernah melihat gambar itu diusianya selagi sekolah di Kindergarten!!

Sambil menata hati dan menimbang-nimbang bagaimana saya harus menyikapi kejadian tersebut dengan jernih, saya diam beberapa menit, berpikir keras mencari cara agar saya bisa mengorek ‚rahasia’ apa saja yang sudah diperolehnya dulu. Saya tahu di kindergarten sekolahnya dulu ada ruang bibliothek mungil. Beberapa kali saya pernah menjemput Obbie di ruangan itu sepulang sekolah karena kadang-kadang memang ada pelajaran membaca bersama gurunya. Tapi sepanjang yang saya lihat meskipun tidak sempat membaca judulnya, buku-bukunya rata-rata berhard cover dengan gambar umumnya anak-anak usia  kindergarten dengan warna-warna  cerah.

Hmmm.. babak pertama segera dimulai, saya lalu memanggil Obbie yang asik melihat-lihat buku lain.
 „Obbie, kesini“ panggil saya. Sambil matanya masih kearah buku yang dipegangnya, dia berjalan kearah saya.
 „Obbie dulu di kindergarten pernah baca buku ini?“
„Iya“ jawabnya
„Obbie udah berapa kali liat buku ini?“
„3x“   ( Gubrakkss!!!   ???**%??**@?!?! )
 „Kapan?“
 „1x dibacain sama Simone -guru walinya-“  lalu „1x Obbie liat-liat sendiri di bibliothek kindergarten. Terus sama sekarang“
„Terus Obbie liat semuanya?“
„Iya, bu guru Obbie bacain buat kita“ (anak-anak sekelasnya, maksudnya)
„Apa Simone bacain juga gambar ini?”  (sambil menunjuk ke jendela kecil dalam buku dengan gambar hubungan intim pria wanita itu, yang saya benar-benar tak tega membukanya!!)
“Iya. Bu guru Obbie bolehin kita liat semua gambarnya kooq...”
“Ooooh..”   gumam saya, pasrah.  Kecolongan.

Si sulung yang sebelumnya asik tak bergeming dengan bukunya kemudian jadi ikut-ikutan nimbrung. “Ada apa sih Ma..”
“Gak apa-apa. Obbie mau pinjam buku ini. Teteh pernah baca buku ini?”  Memandang judulnya sebentar, lalu “Belum” katanya, sambil melanjutkan baca buku  yang dipegangnya lagi. Plong!!

Hening. Berpikir keras lagi. Saya tidak marah, tapi prihatin luar biasa. Ahh sayangku Obbie, kenapa mesti diusia 5 tahunan kamu melihat gambar itu...
Demi melihat perubahan ekspresi  wajah mamanya dan menerima cecaran pertanyaan itu rupanya ‘radar’nya  menjadi  aktif.  Lalu tiba-tiba saja Obbie bilang pada saya “Mama, Obbie enggak jadi pinjam buku itu kerumah, yang ini aja”  katanya.
Saya lalu balik bertanya  “Kenapa??”
Sambil tersipu-sipu dan sedikit memerah mukanya dia bilang “Gak apa-apa, Obbie mau pinjam yang ini saja sama yang ini, ini...”  sambil menunjuk buku-buku lainnya.  Lhoo...???
Saya menahan geli dalam hati dan bersyukur, baguslah saya tidak usah  bersusah payah menerangkan lebih lanjut karena saya sendiri belum siap untuk membahasnya saat itu.  Saya hanya bilang “Iya, pinjam yang lain aja ya, yang ini mama simpan aja lagi. Ok?”  Padahal tanpa sepengetahuan mereka buku itu saya pinjam kerumah, karena saya masih penasaran dengan halaman-halaman berikutnya. Juga karena saya ingin sharing dengan teman-teman yang mempunyai tanggung jawab moril  sama sebagai orang tua.

Sore itu di bibliothek, untuk pertamakalinya tiba-tiba saja saya merasakan hikmah mendalam atas kejadian malasnya Obbie belajar membaca saat masih di kindergarten. Berbeda dengan si sulung yang selalu ingin tahu abjad sejak usia 2 tahun 3 bulan dan  membaca majalah Bobo  dalam hati diusia 3 tahun selagi di Indonesia, si bungsu malaas sekali belajar membaca.
 Meskipun sebelum usia 4 tahun di Indonesia saya sempat mengajarinya cara membaca dasar  ma-mi-mu, na-ni-nu  dst  menjelang tidurnya
, tapi selama sekolah di kindergarten sini yang pelajarannya adalah bermain dan selalu bermaiin dan tidak mewajibkan anak-anak didiknya  belajar membaca,  praktis Obbie pun terbawa-bawa begitu dan saya membiarkannya  saja mengikuti ritme itu. Pelajaran membaca dasar yang dulu dikenalnya benar-benar hilang tak berbekas dan saya mengkhawatirkannya karena menjelang memasuki SD dia masih belum pandai membaca ditambah malas mengeja. Belakangan saya bersyukur dengan kemalasannya dulu belajar membaca dan tertundanya saya dan anak-anak menyusul suami ke Dresden. Saya membayangkan seandainya saja si sulung yang sudah sangat lancar membaca sempat mengenyam pendidikan kindergarten disini.... Ahh agak bergidik saya membayangkannya.

Mungkin tidak semua kindergarten di Jerman memiliki buku bacaan yang sama, sehingga terbebaslah sang anak dari kevulgaran diusia dini. Tapi setahu saya, di Grundschule (SD) di Dresden dan negara bagian Sachsen atau mungkin seluruh Jerman (?) terdapat pelajaran „Sex Education“ bagi murid-muridnya di kelas 4. So, sebelum pengalaman Obbie tersebut, sebetulnya saya sedang mempersiapkan mental diri saya sendiri  menghadapi  si sulung yang Agustus 2011 ini  akan naik ke kelas 4.  Saya harus siap-siap menjawab pertanyaan-pertanyaannya nanti dan bagaimana bisa menyikapinya dengan bijaksana.  Saya tentu tidak  bisa menerapkan apa yang selama ini diperoleh dari orang tua, karena dimasa pertumbuhan hingga lulus sekolah, hanya ada satu kata untuk urusan sex education itu ; tabu. Jadi boro-boroo mau membahas  hal-hal seputar itu, mau nanya saja sudah maluu !!


Dresden, 7 Juli 2011





Cover depan bukuBagian dalam..Ob Mama und Papa wach sind?Gak tega menerjemahakannya...Tulisan dibalik buku "..untuk usia Kindergarten"

Balada Pindahan di Jerman , Kiat Cepat Dapat Wohnung

Mencari flat, apartemen atau populer dengan istilah wohnung di Jerman pada saat kita akan berpindah rumah terlebih ke lain kota memang gampang-gampang susah. Gampangnya, karena ada puluhan bahkan ratusan iklan agen penawaran sewa atau jual beli wohnung dalam website yang bisa digoogling di internet dengan mudah atau di koran-koran lokal di kota yang akan kita tempati. Disitu kita dapat memilih wohnung mana kira-kira yang sesuai dengan kriteria baik model, luasan dan harga, ada yang sudah berikut furnitur juga ada yang kosong tanpa perabot dan kitchen set. Kita pun bisa mengajukan termin secara online dengan pihak agen di website tersebut untuk bertemu.

Susahnya, pada saat kita sudah menemukan wohnung yang tepat, sebagai zuwanderer --imigran-- di negeri ini kadang-kadang tidak mudah meyakinkan si pemilik atau pengelola wohnung dengan kemampuan kita membayar sewa bulanan. Bagi single student mendapatkan wohnung ataupun studentwohnheim mungkin tidak ada kendala berarti, namun tidak demikian halnya bagi sebuah keluarga yang tinggal beserta anak dan istri di Jerman. Biasanya orang Jerman agak underestimate terhadap ausländer --orang asing--, itu karakter yang saya amati dan sudah menjadi rahasia awam, terlebih bila  ausländer itu  berasal dari negara berkembang atau negara miskin. Tak bisa disalahkan memang  seandainya mereka mempunyai kekuatiran pribadi seperti itu,  karena di Jerman ternyata  banyak sekali ausländer yang tanpa memiliki pekerjaan pun masih bisa hidup layak dengan sandang, pangan dan sewa wohnung mengandalkan uang tunjangan sosial dari pemerintah yang mereka terima setiap bulan. Bahkan untuk ausländer yang berasal dari negara tertentu  bisa dikatakan gaya hidupnya cenderung `wah‘ masih mampu memakai mantel, perhiasan dan mobil bagus. Sepintas kita tidak akan menyangka bahwa mereka selama bertahun-tahun hidup dari uang tunjangan sosial. Tapi itulah fakta yang saya perhatikan selama bergaul dan lebih 3 tahun tinggal di  Dresden, salah satu ibukota negara bagian Saxony, eks Jerman Timur.

Naasnya, mungkin karena image negatif yang sudah melekat tentang cerita imigran penerima uang tunjangan sosial di benak pikiran orang Jerman itulah mereka seolah-olah pukul rata, pun bagi orang-orang Indonesia yang punya pekerjaan tetap dan ikut berkontribusi membayar pajak sebesar 35% dari penghasilannya setiap bulan, selagi ketiban peran sebagai calon vermietter --penyewa-- baru, para agen tanpa tedeng aling-aling selalu menyatakan bahwa wohnung-wohnung yang diiklankan itu sudah fully booked, bisa jadi karena mereka melihat nama asing di kolom pendaftaran online. Suami saya pernah mengalami berkali-kali ditelepon para agen rumah yang dihubungi sebelumnya lewat internet dan kemudian mengabarkan  bahwa wohnung yang kami minati sudah terisi. Padahal iklannya masih bertengger cantik beberapa minggu di website mereka.  Memang sih tidak semuanya begitu  tapi tetap saja, terkadang bikin hopeless dan stress!

Stress, karena diluar mudah tidaknya mendapatkan wohnung ideal yang kita inginkan masih ada sejumlah surat perjanjian dan peraturan  baku yang  wajib dipatuhi, misalnya saja berikut beberapa poin  penting yang perlu diperhatikan menjelang pindah rumah :
  • Anmelden (pendaftaran) dan abmelden (pengunduran diri). Anmelden dan abmelden surat perjanjian sewa rumah dilakukan umumnya harus 3 bulan sebelumnya. Bayangkan  pada saat kita sudah melakukan abmelden di wohnung lama bulan ini tapi dalam rentang waktu 2 bulan kedepan ternyata belum juga menemukan wohnung baru, padahal kita harus segera keluar dari wohnung lama tersebut sesuai perjanjian. Barang dan perabot kita mau disimpan dimana? Oleh karena itu seandainya tidak ada kendala berarti, kadang-kadang iklan wohnung dari agen-agen di website sebetulnya juga memudahkan kita memilih wohnung yang kita minati sesuai dengan waktu kapan diperlukan, juga bisa dicari beberapa bulan sebelumnya karena biasanya sudah dicantumkan data mulai tanggal dan bulan kapan berlakunya wohnung tersebut bisa ditempati.
  • Pembayaran Kaution (Uang deposit).  Besarnya relatif, tergantung kebijakan pemilik atau pengelola wohnung. Umumnya sebesar 1-3x kaltmiete (biaya sewa bulanan belum termasuk hitter, listrik dan air). Sedikit gambaran mengenai kaution, uang tersebut tidak serta merta cair saat kita keluar dari wohnung. Perlu antara 3-12 bulan kemudian baru uang tersebut bisa dicairkan dari rekening khusus penyimpanan deposit yang diblokir. Pengelola wohnung terakhir yang kami sewa di Dresden memberlakukan jangka waktu 12 bulan kemudian baru deposit bisa cair. Pemilik atau pengelola wohnung ini biasanya mengadakan pemeriksaan secara detail kondisi wohnung saat serah terima kunci. Apabila wohnung kita bersih, rapi dan sesuai seperti standar sediakala awal kita menempatinya maka akan cairlah semua uang deposit tersebut, tapi biasanya itu tak lepas dari bantuan tenaga Maler, pengecat profesional yang tarifnya sangat mahal. Dilain kasus kadang-kadang ada pemilik privat wohnung yang berbaik hati dan mau menerima tanpa mengajukan denda, sekalipun wohnungnya hanya kita cat sendiri saja tanpa tenaga Maler. Saya pernah mengalami keduanya dan kasus yang terjadi pada wohnung terakhir yang kami sewa di Dresden, pengelola tidak menerima hasil cat yang dilakukan sendiri tanpa jasa profesional Maler dan akan memberlakukan denda dengan memotong uang deposit kami sampai €700!! Huaaaa!! Akhirnya, meskipun dengan berat hati harus membayar profesional Maler sangat mahal, €500 untuk ukuran luas 66m2 (itupun setelah nego dan didiskon), hal itu tetap kami lakukan dengan harapan uang deposit kami sebesar  hampir 3 bulan biaya sewa wohnung bisa kembali.
  • Biaya Provisi.  Bila wohnung diperoleh lewat agen iklan, biasanya ada biaya provisi sebesar 2,38x  biaya bulanan kaltmiete yang harus kita bayarkan ke agen tersebut. Memang tidak semua agen iklan memasang biaya provisi, ada juga yang provisionfrei. Bisa dibayangkan misalnya biaya kaltmiete wohnung katakanlah €500 per bulan, maka kita harus membayar sebesar 2,38 dikalikan €500 ( €1190 uang terbuang percuma!!) ke sang agen dan juga harus menyiapkan uang pembayaran kaution selama 1-3x sewa bulanan dimuka. Itu belum termasuk biaya pembayaran dobel wohnung lama dan baru pada bulan terakhir menjelang kepindahan, karena biasanya saat memindahkan perabot dari rumah lama ke rumah baru terlebih bila pindah kelain kota, plus untuk mengecat dan membersihkan wohnung, memerlukan waktu minimal sekitar 2 minggu. Dari segi tenaga, pikiran, waktu dan biaya awal pindahan yang tidak sedikit tentu saja itu seringkali memicu stress. Namun di Jerman kadang-kadang ada perusahaan yang mau menanggung biaya provisi agen wohnung untuk karyawan yang direkrutnya dan mengharuskannya pindah ke kota dimana perusahaan tersebut berada, yang biasanya tertera dalam surat perjanjian kerja. Beruntunglah bila seseorang mendapatkan itu, karena paling tidak itu akan sangat membantu menekan budget dan kita bisa lebih memfokuskan biaya untuk pembayaran kaution, dobel wohnung dan biaya bersih-bersih rumah termasuk mengecat serta membuang perabot bila memang ada.
  • Jasa pengangkut pindahan atau Umzug Service.  Seperti jasa pengecat rumah, jasa pengangkut pindah rumah juga disini sangatlah mahal. Saya masih ingat kejadian sewaktu rumah kami di Batam dijual tapi ternyata semuanya tidak sesuai rencana dan harus molor, akhirnya kami harus menyewa rumah selama 2 bulan hanya 1 blok dari rumah milik kami. Karena suami waktu itu masih bekerja diluar Batam, praktis semua proses pemindahan, penjualan dan pembuangan barang-barang perabot harus saya tangani sendiri. Enaknyaa pindahan di Indonesia, tinggal memanggil beberapa orang tenaga dan  sewa truk mini sekalian, setelah itu kita memberinya rokok, makanan, uang harian, selesai. Disini, pindahan rumah terlebih bagi sebuah keluarga yang memiliki banyak perabot adalah sebuah projek besar. Projek besar bagi  jasa Umzug Service tentu saja. Mereka bisa mengajukan proposal  biaya pindah setelah melakukan kunjungan dan estimasi harga untuk semua barang yang akan diangkut. Untunglah perusahaan-perusahaan dan institusi di Jerman umumnya mengalokasikan dana pindahan bagi karyawan yang direkrutnya. Itu sudah menjadi 1 paket, dan tertera dalam surat perjanjian kerja. Tidak peduli apakah karyawan baru tersebut berasal dari dalam atau luar Jerman, bahkan dari benua lain sekalipun. Besar dananya relatif, tergantung kebijakan dan besar kecilnya perusahaan. Ada perusahaan yang mematok misalnya dalam kisaran sampai  €3000-€4000 untuk biaya Umzug Service, ada pula yang non limited. Adanya alokasi dana bagi jasa Umzug Service ini  tentu sangat membantu bagi yang akan berpindah rumah, karena jadi tidak perlu sibuk mengepak semua barang  sendiri. Bila mujur, bahkan kita masih bisa bargain lagi, selama hal itu tentunya tidak memberatkan perusahaan sehingga apa yang tertera dalam surat perjanjian kerja bisa lebih fleksibel dan menguntungkan kita.
  • Peraturan non statement.  Ada peraturan dalam perjanjian sewa wohnung yang tidak dijelaskan secara eksplisit dalam surat perjanjian, misalnya saja tidak diperbolehkan memasang wallpaper, mengecat dengan menggunakan warna-warna gelap (harus cat putih) atau memasang karpet meteran karena dikuatirkan akan merusak dinding atau bagian lantai sebelumnya. Sebaiknya ini ditanyakan langsung dengan pemilik atau pengelola wohnung sejak awal, supaya kita tidak kecolongan menyalahi aturan karena tidak tertera dalam surat perjanjian dan kemudian harus membayar uang denda.
  • Peraturan lain-lain seperti mengurus kepindahan sekolah anak, kindergeld, hort, asuransi kesehatan, dokter, dokter gigi, perpustakaan, telepon-internet, listrik dan lain-lain yang akan terlalu panjang apabila diuraikan disini satu persatu namun pada intinya hanya beberapa poin diatas yang paling penting diperhatikan berkaitan dengan surat perjanjian sewa wohnung. Bila saya boleh menambahkan poin penting lainnya, sebagai penyewa asal Indonesia lebih baik lagi bila bisa memilih wohnung dengan dapur berjendela lebar dan bisa dibuka bebas. Bukan apa-apa, biasanya orang Indonesia suka kangen masakan tanah air, dan bila memasak goreng-gorengan, sambal dan lain-lain sejenisnya yang baunya menyengat itu jadi bisa lebih rileks memasaknya dan tidak kena komplain tetangga yang biasanya berakhir UUD juga, ujung-ujungnya duit karena harus membayar denda!
Menyiasati hunting wohnung dengan jitu dan sesuai keinginan ternyata memang harus memakai trik tertentu. Lama tidaknya masa calon vermietter tinggal di Jerman tidak bisa dijadikan patokan untuk mendapatkan wohnung dengan mudah seandainya yang bersangkutan tidak sering mengalami pindah rumah. Salah satu teman baik kami misalnya, menceritakan bahwa sebelum pindah rumah banyak kriteria yang dipilih untuk mendapatkan wohnung idamannya. Namun demi adanya tenggang waktu anmelden-abmelden seperti yang sudah diuraikan diatas dan setelah hampir 2 bulan setelah masa abmelden wohnung lama ternyata masih juga belum mendapatkan wohnung baru, akhirnya beberapa kriterianya mau tidak mau harus rela dihapuskan, mulai dari luasan, balkon dan lain-lain karena yang penting bagi mereka disaat „genting“ tersebut adalah segera bisa menemukan dan pindah ke wohnung baru.

Ceritanya setelah berkali-kali suami mendapatkan telepon dari agen yang mengabarkan bahwa beberapa wohnung yang ditawarkannya telah terisi, akhirnya salah seorang rekan sekerjanya asal Inggris yang telah hampir 20 tahun tinggal di Kirchheim Teck menyarankan untuk memasang iklan di koran lokal Kirchheim. Alasannya, karena hampir semua pemilik privat wohnung di Kirchheim Teck ini bisa dipastikan para oma-opa atau orang lanjut usia, yang meskipun jaman internet sekarang  sudah demikian canggih begini tapi mereka lebih berbahagia dan semangat membaca koran pagi, selain  untuk menghindari biaya jasa dan provisi agen tentu saja. Pertimbangan lainnya, apalagi kalau bukan untuk menghindari kejadian ``underestimate`` ketidakmampuan membayar wohnung itu. Paling tidak bila pemilik atau pengelola wohnung tahu bahwa kita memiliki pekerjaan tetap, tak perlu ada kekuatiran lagi bahwa si penyewa tidak mampu membayar setiap bulannya.

Jadi silahkan saja menuliskan profesi anda, bekerja dimana, sedang mencari wohnung di lokasi mana, model, luas, fasilitas yang diinginkan dan lain-lain dalam iklan koran lokal sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan. Rasanya ide itu memang brilian, karena terbukti setelah 2 hari memasang iklan di koran lokal dengan biaya €12, ada beberapa telepon masuk dan menawarkan untuk bertemu. Dan tidak memerlukan waktu cukup lama meskipun tetap sesuai prosedur di Jerman, kemudian dibuat termin pertemuan, sedikit interview plus harus menunjukkan surat perjanjian kerja berikut penghasilan per tahun. Alhamdulillah, dalam waktu sekitar 3 minggu sejak iklan tersebut dipasang akhirnya kami  mendapatkan surat perjanjian wohnung yang kami tempati sekarang ini, yang lokasinya bahkan jauh melebihi harapan kami.

Demikian sekilas info, catatan di penghujung tahun dari pinggiran Stuttgart. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi teman-teman yang berencana pindah rumah baik yang sudah tinggal didalam ataupun akan menuju Jerman, paling tidak jadi bisa mengantisipasi dan meminimalisir stressnya pindahan di negeri ini  :-)

Kirchheim Teck, 30 Desember 2011

(Ditulis 2 bulan, lalu tapi baru diposkan :-))

Welcome to my Blog !

Sejak 2 tahun terakhir saya ingin membuat blog, apalagi teman-teman sudah banyak yang menyarankan untuk membuatnya dan seringkali saya tanggapi dengan senyum simpul. Bukan apa-apa, kebiasaan menulis Diary sejak jaman SMA hingga lulus kuliah yang kemudian tidak pernah saya lakukan lagi ketika mulai bekerja, menikah dan mempunyai 2 anak pun tidak bisa saya realisasikan lagi hingga sekarang. Aktivitas Facebook dan upload foto-foto saja kadang sudah menyita waktu, meskipun seringkali dilakukan secara 'sambilan' mengerjakan pekerjaan rutin rumah tangga sehari-hari di rumah, apalagi membuat Blog?? Wahh hari gini baru nge-blog??  Ketinggalan bangettt euyyy  :-))p

Ah, 3 tahun kebelakang saya memang merasa kekurangan waktu luang untuk menulis. Apalagi kursus bahasa Jerman yang saya jalani selama satu setengah tahun terakhir selagi kami tinggal di Dresden benar-benar menyita waktu dan energi. Disebut paling menyita waktu dan energi, karena disela-sela kegiatan kursus bahasa selama hampir 5 jam dalam sehari itu saya masih harus menyiapkan sarapan pagi dan perlengkapan anak-anak ke sekolah, mengantar jemput mereka pagi dan sore hari, berbelanja kebutuhan sehari-hari, memasak, beres-beres rumah, mencuci piring dan pakaian (untuk urusan cuci mencuci ini saya benar-benar berterima kasih pada 2 sahabatku dirumah, si mbakyu mesin Geschirrspüller dan Waschmaschine :-)), menyetrika baju dll yang sepertinya pekerjaan sepele tapi selalu membuat saya cepat tumbang di malam hari. Padahal pengalaman-pengalaman menarik selama saya tinggal di Jerman dan kunjungan ke negeri lain, atau sekedar momen keluarga kecil kami, terlalu banyak menari-nari dalam kepala dan rasanya ingin dituangkan sebagai memori yang akan indah kami kenang, oleh anak-anak dan mungkin cucu-cucu saya kelak.

Harapan saya dengan adanya blog ini bisa memotivasi diri untuk menulis 'Diary' kembali dan refresh memori-memori yang biasanya akan terlupakan seiring usia dan waktu, tentunya dalam format dan kemasan yang lebih menarik dibandingkan 3 diary jadul saya hehehe..  Mudah-mudahan cerita dan pengalaman-pengalaman yang saya tuangkan disini bisa menjadi bahan sharing dengan teman-teman semua, atau paling tidak bermanfaat laah untuk anak-cucu saya kelak !

So, welcome to my blog! Thanks for your visit :-)

Salam dari pinggiran Stuttgart!