Friday, February 10, 2012

Mualaf di Gemerlapnya Wina

Musim semi awal April 2010  pada kunjungan perjalanan 3 hari di  Wina, Austria, ada pengalaman yang sangat membekas dan selalu terekam dalam ingatan saya.

Siang itu di sekitar area Stephen’s Dom, Wina, sesudah kami cukup puas  berputar-putar di oldcity dan akan menuju ke objek wisata berikutnya, saya dan suami agak sedikit bersitegang. Penyebabnya biasanya enggak jauh-jauh dari keinginan saya yang tidak bisa menahan diri untuk memotret mengabadikan gedung-gedung dan suasana nan indah di suatu kota baru yang pertama kali kami kunjungi, termasuk memotret anak-anak kami juga. Maklumlah, bagaimanapun  nuansanya berbeda dengan Dresden hehee.. jadi saya pikir kapan lagi dalam waktu dekat bisa mengambil foto-foto pemandangan disitu. Apalagi kunjungan kami pun singkat, hanya menginap 2 malam di Wina  padahal tempat yang akan kami kunjungi masih banyak, tidak mungkin satu objek sempat 2x terkujungi. Tetapi menurut suami, karena liburan itu milik kami bersama dan anak-anak  pun  berhak menikmatinya maka  sangatlah tidak bijaksana  seandainya saya  asik sendiri menjeprat-jepret dan seolah-olah mengabaikan dia dan anak-anak. Oo…oo… padahal saya sama sekali tidak bermaksud begitu, saya pikir dalam kurun waktu singkat menjeprat-jepret itu, (seringnya pake automatic pula karena tidak ada waktu untuk mengatur-atur secara manual disamping kemampuan teknik yg  belum canggih tentunya hehee) dan selama anak-anak termonitor dengan aman dibantu suami, saya juga sudah membuat kenang-kenangan bagi kami sekeluarga dan suatu saat bisa menunjukkan kepada anak-anak dan berkata  “ooh ini lhoo foto kalian waktu di tempat anu di Wina… ooh itu lhoo gaya kalian waktu berkunjung ke Riesenrad..”.  Seperti simbiose mutualisme begitulah… Tapi tentulah dua kepala akan punya dua pikiran yang berbeda. Well, okelah kalau begitu… kan istri harus nurut sama suami  yah  :))

Jadi, sambil masih kesal karena keinginan saya memotret tidak tersampaikan, :p  naiklah kami kedalam sebuah bus merah yang khusus dipakai dalam jalur turis oldcity-nya Wina. Saya lupa istilahnya apa, yang jelas bus merah kecil itu berisi sedikit kursi dan penumpang yang tidak penuh, sebagian kursinya ada yang berhadapan seperti posisi kursi dalam angkot di Indonesia.  Saya dan suami duduk berdampingan dan berhadapan dengan 2 orang asing  didepan kami. Kami pun bicara yang singkat2 seperlunya karena satu sama lain masih merasa kesal. Anak-anak  duduk diseberang samping kami dan asik mengoceh terus dalam bahasa Jerman membicarakan apa saja yang mereka lihat sepanjang perjalanan, sampai akhirnya si bungsu bertanya dalam bahasa Indonesia “Apa artinya drei (3) Musketeer?”  lalu saya jawab, “ Mama enggak tau, yang mama tau cuma cerita filmnya Three Musketeers (filmnya Kiefer Sutherland) aja, tapi itu sama enggak ya?”  Suami pun sama tidak faham betul.

Spontan, tiba-tiba saja salah satu penumpang dihadapan kami, wanita cantik pirang  berusia sekitar 43 tahun dengan busana eksklusif dan simpatik  bertanya kepada kami  dengan bahasa Indonesia yang sangat fasih “Anda berasal dari Indonesia?”  saya dan suami tentu saja kaget sekali. Huahhh, bahasa tubuh kami yang sedang kesal dan bicara pendek2 itu tentulah dimengerti oleh orang itu  :p  Tiba-tiba saja kami merasa malu kepada diri sendiri... Lalu wanita itu bilang, bahwa dari tadi dia ingin bertanya kepada kami, tapi karena anak2 kami selalu bicara dalam bahasa Jerman maka dia hanya mengamati saja. Selanjutnya, dia  menjelaskan arti 3 Musketeer kepada anak2 kami dalam bahasa campuran Indonesia-Jerman  :D
Dunia sempit.com judulnya, saya pikir selama kami marah di negeri asing, bule-bule enggak akan mengerti, ternyata kami yang terkecoh hahahahaa..
Kemudian saya dan suami pun langsung meluncurkan pertanyaan2  karena rasa penasaran kami  “Wahh hebat, bahasa Indonesia anda bagus sekali.. pernah ke Indonesia?”  “pernah berapa lama tingggal di Indonesia?” dan bla bla bla pertanyaan2 lain...

Ternyata wanita ini asli Wina, pernah hampir 8 tahun tinggal bolak-balik Austria-Indonesia dan mengunjungi ke banyak kota di Indonesia. Artikulasi bahasa Indonesianya terdengar sangat jelas dan dia bisa memilih kata-kata yang tepat untuk berkomunikasi yang dipakai orang Indonesia umumnya. Dia juga sangat menyukai suasana dan kultur Indonesia termasuk makanan2nya. Kami terus mengobrol dalam bahasa Indonesia, sehigga penumpang lain memeperhatikan kami.
Sampai suatu ketika dia bertanya kepada saya “Anda muslim kan?” padahal saya pakai kerudung hehee...(belakangan saya mahfum, karena ternyata wanita2 orthodox pun banyak yang memakai kerudung ala muslimah Turki). Saya jawab “Ya”.  Lalu dia bilang “Saya juga muslim”. Saya lalu mengejar dengan pertanyaan “Bagaimana anda bisa menjadi muslim?”  dia lalu menceritakan, bahwa saat kejadian tsunami besar menghebohan tahun 2004 lalu dan memakan korban ribuan jiwa di banyak negara termasuk di Aceh itu dia sedang berada di sebuah desa pantai di Srilanka. Saya tidak menanyakan lebih lanjut apa yang dia lakukan saat itu di Srilanka. Mungkin berlibur. Yang jelas sejumlah 220 orang yang sedang berada di desa pantai itu semuanya meninggal tidak tertolong  kecuali dia seorang diri yang berhasil selamat. Dan sejak itulah dia memeluk Islam. Saat mendengarkan ceritanya, tiba2 saja bulu kuduk saya berdiri, merinding, Subhanallah! Allah telah memberikan hidayah bagi hambaNya yang terbiasa hidup dalam gemerlapnya kota Wina yang sangat cantik dan dalam tatanan sosial masyarakat kristiani dengan cara yang tidak terduga. Saya berpikir mungkinkah di desa itu ada satu mesjid atau mushola yang tetap berdiri tegak sebagaimana halnya terjadi di Banda Aceh, sehingga dia memutuskan untuk memeluk Islam?? Wallahualam..

Karena belum sempat kami melanjutkan pembicaraan, tiba2 bus merah kendaraan kami telah sampai pada halte yang kami tuju. Mengingat waktu metro/u bahn tujuan kami berikutnya hampir tiba dan planning kami telah terjadwal maka kami pun dengan agak tergesa-gesa turun dari bus. Kaget dengan perhentian mendadak karena asik mengobrol. Wanita itu pun turun juga, hanya saja ke arah yang berlawanan dengan tujuan kami. Sempat terbersit dalam pikiran untuk menanyakan nama, alamat atau telepon... tapi karena  pertemuan yang sangat singkat dan saya khawatir itu menjadi tidak sopan bagi kultur mereka maka saya pun mengurungkan niat tersebut. Kami berpisah, tersenyum sambil berkata "Sampai jumpa" dan saling melambaikan tangan.  Belakangan saya menyesal, kenapa saya lupa menanyakan emailnya... mungkin dengan begitu komunikasi kami akan terus terjalin dan barangkali dia membutuhkan sesuatu atau informasi yang berhubungan dengan keIslamannya atau dengan Indonesia yang disukainya  saya bisa membantunya. Tapi... ya sudahlah, saya tidak mempunyai mesin waktu dan memutar kembali ke kejadian saat itu. Saya hanya bisa mengirimkan do’a tulus baginya, siapa pun namanya dan dimanapun tinggalnya, untuk wanita mualaf itu, yang juga telah menyentakkan kesadaran kami, saya dan suami, bahwa kami tidak boleh menganggap enteng orang asing di hadapan kami  tidak mengerti bahasa verbal dan non verbal dalam bahasa Indonesia sekalipun! Semoga saja iman Islamnya tetap terjaga dan dia diberikan kemudahan serta kelancaran menjalani  agama baru dalam hidupnya. Amin.


Dresden, 15 November 2010

No comments:

Post a Comment