Friday, March 9, 2012

Ketoprak praktis ala Irna


Awal Februari lalu untuk pertamakalinya saya bikin lontong sendiri, tentu pake Reisbeutel yang kemasannya memang sudah tinggal rebus saja itu. Ooh ternyata gampang begitu koq ya kenapa enggak dari dulu duluu bikin sendiri. Gara-gara pernah denger dari temen katanya merebusnya musti 2 jam lebih, bikin saya males duluan. Lalu setelah tau tips agar merebus lontongnya tidak pake lama, dengan cara merendam dulu  si Reisbeutel itu semalaman, barulah saya mau praktek. Maklumlah sejak 3,5 tahun tinggal disini saya belum pernah nemu ketoprak, kangeen!  Demi sang ketoprak inilah akhirnya saya jadi bisa juga bikin lontong sendiri. Senangnya lagi, karena lontong perdana saya tidak gagal hehee... halus mulus dengan kepadatan oke tanpa perlu kapur sirih! 
Dibilang ketoprak praktis, karena kacangnya saya beli jadi dalam kaleng di supermarket (geröstet und gesalzen Erdnüsse) yang rasanya memang sudah enak, jadi tidak perlu repot menggoreng lagi dan dijamin tidak gosong! Tapi, ternyata kalo gak pake campuran kentang rebus, sang bumbu agak encer kurang legit, dengan dicampur sedikit kentang rebus yang ikut diulek, rasanya jadi lebih menggigit, ya lumayanlah kalo buat obat kangen..yang ada didepan mata apapun terasa nikmaat! :-))
Beginilah jadinya tampang ketoprak itu,



Bahan :
2 bungkus lontong (saya pake 2 bungkus Reisbeutel, tinggal direbus), potong-potong
50 gram bihun kering atau secukupnya, seduh air mendidih, tiriskan
100 gram taoge, buang akarnya, seduh air panas, tiriskan
3 buah tahu segar atau 2 bungkus Natur Tofu, belah besar, goreng 1/2 matang, potong dadu 2 cm
Kerupuk  secukupnya
Kecap manis sesuai selera
Bawang goreng untuk taburan

Bumbu halus : 
4-5 buah cabai rawit (atau lebih tergantung selera)
3-4 siung bawang putih (goreng utuh sebentar sampai agak layu, bila tidak suka terlalu tajam baunya)
100 gram kacang tanah jadi dalam kaleng ( geröstet und gesalzen Erdnüsse)
1 buah kentang rebus ukuran kecil, untuk mengentalkan bumbu kacang (bila memakai kacang yg digoreng sendiri, tidak perlu kentang rebus lagi)
Gula merah secukupnya
Garam secukupnya
1 sdt asam jawa
Air panas secukupnya, untuk merendam asam dan mengencerkan bumbu kacang


Cara Membuat Ketoprak :
  1. Haluskan bahan bumbu pake ulekan (mungkin bisa juga pake blender tp saya pilih pake ulekan aja biar lebih mantap :-))
  2. Susun dalam pinggan berturut-turut, lontong, bihun, tahu goreng, taoge
  3. Siramkan bumbu kacang, taburkan  bawang goreng, hidangkan dengan kerupuk, siap disantap. 

**Reisbeutel, bahasa Jerman, reis  = beras, beutel = kantong, jadi  beras dalam kantong plastik yang    dikemas sedemikian rupa serta kantong plastiknya sudah diberi lubang2 kecil, tinggal direbus langsung dengan plastiknya maka jadilah lontong.

Ucapan Kepada Anak yang Wajib Dhindari

(Copas, saya simpan agar bisa selalu diingat, bahan renungan dan introspeksi diri sebagai orang tua yang tak pernah luput dari kesalahan)

Orang tua Merupakan sosok yang sangat penting dan berpengaruh dalam kehidupan seorang anak, baik tingkah laku orang tua maupun ucapan orang. Terkadang, permasalahan di kantor, konflik dengan suami, atau permasalahan keluarga malah membuat Anda kesal ketika berhadapan dengan sikap anak yang kurang menyenangkan.
Apalagi jika si kecil meminta macam-macam kepada Anda, sehingga tidak menutup kemungkinan Anda mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak boleh diucapkan ke buah hati tercinta. Tentu saja, hal tersebut akan meninggalkan luka tersendiri bagi anak Anda. 
Berikut sembilan hal yang sebaiknya jangan diucapkan orangtua kepada buah hatinya seperti dilansir Parenting :
1. "Pergi! Mama ingin sendiri dulu"
        Ketika Anda mengatakan kalimat ini kepada si kecil, Suzette Haden Elgin, Ph.D., pendiri Ozark Center for Language Studies mengatakan bahwa anak akan menginternalisasi kalimat tersebut dan berpikir tidak ada gunanya untuk berusaha berbicara kepada Anda karena mereka selalu diusir. Selain itu, jika Anda terbiasa mengatakan hal ini kepada anak, ketika dewasa ia akan terbiasa pula mengatakan hal yang sama kepada orang lain.
             Ketimbang mengucapkan kalimat di atas, ketika Anda memang sibuk coba katakan pada anak, "ada yang ibu harus kerjakan dan selesaikan, jadi ibu ingin kamu menggambar dulu sendiri ya beberapa menit. Kalau ibu sudah selesai, ibu akan menyusul". Anda juga harus realistis, anak-anak yang berusia balita dan pre school tidak bisa membuat diri mereka sendiri tenang selama beberapa jam.
2. "Kamu itu..."
        Memberikan label adalah jalan pintas untuk mengubah anak-anak. Jika Anda mengatakan "kamu itu memang pemalas," maka ia akan ikut melabeli dirinya secara tidak langsung dan menganggap dirinya memang pemalas dan tidak ada yang dapat diubah. Jika kita memberikan label yang buruk kepada anak seperti bodoh, nakal, dan sebagainya, maka hal tersebut akan terus melekat dan bisa saja menjadi identitas dirinya yang ia internalisasi hingga dewasa. 
      Sebaliknya, jika Anda mengatakan "kamu anak yang pintar," ia akan mengira Anda memiliki ekspektasi yang besar untuknya dan hal tersebut tentu saja dapat menjadi suatu beban tersendiri baginya. Jika Anda ingin untuk mengubah tingkah laku si kecil, lebih baik katakan secara jelas dan spesifik apa yang sebaiknya ia lakukan dan apa yang sebaiknya tidak ia lakukan tanpa memberi label untuknya.
3. "Jangan menangis"
    "Jangan sedih!," atau "jangan seperti anak kecil" merupakan variasi lain dari kalimat di atas. Jika Anda perhatikan, anak-anak belum bisa menyalurkan emosinya melalui kata-kata. Mereka tertawa ketika mereka senang, dan sudah pasti mereka menangis jika mereka sedih. Hal tersebut merupakan hal yang lumrah. 
      "Sebenarnya, wajar bila orang tua tidak ingin anaknya merasa sedih atau menangis. Tetapi, dengan mengatakan "jangan" dan "tidak" kepada anak tidak akan membuat anak tersebut merasa lebih baik. Bahkan, hal tersebut akan menimbulkan kesan bahwa emosi mereka tidak benar dan tidak baik untuk merasa sedih atau takut," kata Debbie Glasser, Ph.D., direktur dari Family Support Services di Nova Southeastern University, Florida, Amerika Serikat. 
        Daripada Anda memintanya jangan menangis, cobalah pahami emosi atau kesedihannya. "Ibu tahu kamu takut sekolah tidak ditemani ibu. Tapi di sana ada ibu guru yang bisa jadi pengganti ibu sebentar dan ada teman-teman kamu. Kalau kamu masih takut, ibu selalu ada di luar dan kamu bisa bertemu aku kapanpun kamu mau. Ibu janji nggak akan ninggalin kamu sendirian".
        Dengan memahami kesedihannya, Anda bisa memberinya contoh bagaimana mengekspreksikan perasaannya. Anda juga menunjukkan padanya bagaimana bersikap empati. Di kemudian hari, anak pun jadi tidak lagi terlalu sering menangis dan bisa mengekspreksikan kesedihannya.
4. "Kenapa kamu tidak seperti dia?"
      Wajar bagi orang tua untuk membanding-bandingkan si kakak dengan si adik, atau membandingkan anak dengan temannya yang lain. Tapi, membanding-bandingkan anak Anda bukanlah cara yang efektif untuk mengubah perilakunya. Anak memiliki fase tersendiri untuk belajar, memiliki temperamennya masing-masing, juga kepribadiannya yang pasti berbeda antara satu dengan yang lainnya. 
        Membandingkan anak Anda akan menyiratkan bahwa Anda ingin ia tidak menjadi dirinya sendiri dan hal tersebut justru malah akan menyakiti hatinya. Selain itu, membanding-bandingkan anak juga dapat merusak kepercayaan dirinya. Lebih baik, berikan apresiasi dan pujian atas tingkah lakunya yang Anda sukai agar dapat mendorongnya untuk melakukan hal tersebut kembali.
5. "Lho, hanya begini hasilnya?"
      Sama seperti membanding-bandingkan, anak Anda juga pasti akan tersakiti hatinya jika Anda mengatakan kalimat tersebut kepadanya. Belajar adalah suatu proses untuk mencoba dan melakukan kesalahan hingga anak Anda akhirnya berhasil untuk menguasai suatu hal. Kalimat ini tidak akan menyemangatinya untuk terus menguasai hal tersebut, malah hanya akan menyakitinya dan membuatnya malas untuk kembali belajar.
         Jika anak Anda terus melakukan kesalahan, memberikan semangat dengan berkata "sepertinya akan lebih baik jika kamu menyelesaikannya dengan cara seperti ini," akan lebih memotivasinya dibandingkan dengan terus mengejeknya.
6. "Berhenti, atau..."
          Kalimat di atas merupakan salah satu bentuk ancaman. Jika Anda sering mengatakan ini kepada anak, cepat atau lambat ancaman ini tidak akan berpengaruh lagi terhadap anak dan bahkan anak akan menganggap ancaman sebagai suatu hal yang biasa. "Hasil riset menunjukkan bahwa, 80% anak dua tahun akan mengulangi kesalahan yang sama yang dilakukannya hari ini, keesokan harinya, tak peduli disiplin seperti apa yang Anda terapkan," kata Murray Straus, Ph.D., seorang sosiolog di University of New Hampshire. 
           Jadi sebaiknya Anda tidak lagi memberinya ancaman. Akan lebih efektif untuk menerapkan taktik misalnya memberikan anak arahan yang sama, menjauhkan anak dari situasi serupa atau memberinya time-out. 
7. "Tunggu sampai Mama pulang ke rumah!"
           Ini adalah salah satu bentuk lain dari ancaman. Akan tetapi, ancaman seperti ini akan lebih tidak efektif karena jika anak melakukan suatu kesalahan, sebaiknya Anda menanganinya secara langsung dan secepat mungkin sehingga tidak ada penundaan. Selain itu, bisa jadi setelah Anda pulang, anak Anda telah melupakan kesalahannya. Hal lain yang membuat ancaman tersebut kurang efektif adalah anak Anda yang akan lebih berfokus kepada cara untuk mencegah hukuman daripada fokus terhadap tingkah lakunya yang salah apabila Anda melakukan penundaan dalam menangani tingkah lakunya.
8. "Ayo, cepat!"
            Anda pasti akan merasa stres saat terlambat bangun pagi, jalanan macet, kurang tidur, atau memiliki banyak pekerjaan di kantor yang harus Anda selesaikan segera. Anda pun kemudian meminta si kecil untuk buru-buru agar Anda tidak terlambat. Jika Anda kerapkali mengeluh, mendesah, atau bahkan merengek agar anak buru-buru sebaiknya Anda perlu berhati-hati. Hal tersebut cenderung menimbulkan perasaan bersalah pada anak, akan tetapi tidak membuat mereka termotivasi untuk bergerak lebih cepat.
9. "Hebat! atau "anak baik!"
            Memang, tidak ada salahnya untuk memuji anak Anda. Tapi kesalahan dari suatu pujian adalah ketika pujian berlebihan diberikan untuk tingkah laku anak yang biasa saja. Misalnya, kalimat seperti "wah, kamu sangat hebat!," dilontarkan kepada anak yang telah terbiasa menghabiskan susunya setiap hari, akan menjadi kurang berarti. 
           Anak-anak dapat membedakan mana pujian yang dilontarkan untuk sesuatu yang sederhana, dan pujian untuk suatu tingkah lakunya yang memerlukan usaha lebih. Lebih baik, berikan pujian untuk usaha keras yang telah anak Anda lakukan seperti menyelesaikan pekerjaan rumah yang sulit, atau pada hal yang jarang anak Anda lakukan tetapi sekarang ia berhasil melakukannya. Pujian yang spesifik membuat anak lebih termotivasi untuk melakukan tingkah laku tersebut.